Selasa, 04 Desember 2012

next story


DAN CIKAL PUN JADI SAKSI
        Ku ikat tali sepatuku sebelum benar-benar beranjak dari kamar kostku. Walau cuaca agak mendung aku harus tetap ke sanggar siang ini. Sebagai ketua reka kerja, aku harus benar-benar membuat acara yang aku tangani ini benar-benar sukses. Sengaja aku menawarkan diri menjadi ketua reka kerja agar memenuhi point ke 8 dalam SKU, untuk meraih tingkat pandega.  Semenjak Munas tidak lagi menetapkan umur untuk pandega, aku jadi benar-benar ingin menyelesaikan SKU ku sesegera mungkin. Tak peduli apapun rintangannya, karena tekadku sudah bulat.
          Seperti dugaanku, sanggar masih sepi, tak ada riuh anak-anak racana yang selalu terdengar merdu. Kucoba mengirimkan sms kepada seluruh penanggung jawab kegiatan yang sudah bersedia membantuku, tapi hampir setengah jam tak ada balasan. Yaaa mungkin mereka sedang sibuk dengan kuliah atau kegiatan yang tidak kalah penting.
          Sendiri di sanggar dan mencoba mendekorasi sanggar ini sebisaku, agar sanggar ini terlihat lebih menarik tentunya. Tak lama dengan kesendirianku, Fani, salah satu penanggung jawab datang.
          “sendiri kak ? yang lain mana ?” katanya sembari duduk disebelahku dan membantuku.
          “yang lain belum tau neh kak keberadaannya” jawabku masih terus menyelesaikan dekorasiku.

                                                8888888888888
         
Hari ini acara Perkajum dimulai, sebagai salah satu dari rangkaian acara Harla racana yang aku ketuai. Aku memang sedikit kewalahan dengan kegiatan ini. Walaupun aku sudah banyak pengalaman menjadi ketua dalam kegiatan, namun kali ini memang menguras tenaga dan pikiranku lebih banyak. Sitambah lagi aku tetap harus jadi peserta perkajum juga.
          Briefing baru saja selesai, tak banyak komentar, mungkin karena hari pertama ini benar-benar melelahkan. Kurebahkan badanku didekat Rico yang terlihat sudah terlelap dalam tenda.
          “Fani kok g dateng yaa,  Ndre ?”
Sedikit kaget mendengar suara Rico yang kuduga sudah terlelap sedari tadi.
          “ehh Ric, kirain dah jauh kamu tidurnya, heheheh mmm aku juga g tahu alasan Fani g datang, padahal akan lebih seru yaa kalau dia bisa datang”jawabku pada Rico yang sudah kembali terlelap.
Aneh juga anak ini, pikirku.
          Rico benar juga, kenapa Fani g datang yaa. Sibuk kali yaa, atau banyak tugas, atau mungkin bertabrakan dengan jadwal kuliahnya. Ahhh kucoba menepis pikiranku yang tiba-tiba memikirkan Fani.
                                                          88888888
          Rangkaian perkajum berhasil, namun tugasku belum sepenuhnya selesai. Aku masih harus mengumpulkan PJ agar mampu melaporkan keluhan dan persiapan mereka sejauh ini untuk acara puncak nantinya. Banyak laporan-laporan PJ yang makin menjadi bebanku. Dari bidang tari, drama, mc, dan lain lain yang sudah hampir setengah beres.
          Aku tatap Fani yang sedang sibuk membicarakan sesuatu dengan ketua dewan putra dan partnernya dalam bidang tari. Senyumannya dan tawa kecilnya yang sesekali menyelingi pembicaraan terlihat sangat menyejukkan mataku. Lesung pipinya walau hanya terlihat dari jauh tak mampu mengurangi  manis wajahnya. Aku tersadar kalau aku benar-benar menatapnya dalam saat Danang mengagetkanku.
          “hayoo pak ketua ngeliatin apaa nehhh,,, dalam banget” katanya menggoda
          “ ahh gak, biasa ajaa” jawabku sambil menggaruk kepala walau memang tek terasa gatal.
          “waauuuuuww kayaknya pangeran sudah menemukan pasangannya nih” kali ini suara Sasa yang sengaja dibesarkan agar anak-anak sanggar lain mendengarnya.
          “apa-apaan sih, biasaa ajaa” kataku sambil sesekali menatap Fani, berharap dia tidak mendengar kata-kata Sasa tadi.
Kuraih tasku sembari berlalu untuk keluar, tapi Fani menanyakan apa maksud perkataan Sasa tadi, tak lupa dengan senyum manisnya.
          “lupain Fan, mereka asal tuh”
Hanya kata-kata itu yang mampu kuucapkan untuk menutupi kegugupanku di depan Fani.
                                                          88888888

          Kutatap balkon kamar kosku sambil terus membiarkan bayang-bayang Fani menari dalam pikiranku. Semakin hari aku makin merasa lain saat aku tatap matanya. Jantungku tak dapat dikendalikan debarannya setiap kali dia memberikan senyum indah nan tulusnya padaku. Lengkungan bibir yang mampu mengundang lesung pipinya semakin mampu mengganggu setiap detikku. Sapaannya juga tak kalah menjadikan pikiranku sedikit lebih tenang dengan berbagai jenis beban yang ada sebelumnya.
          Ku bertanya dalam diriku, apakah aku merasakannya ? pantaskan aku merasakannya dengan teman satu organisasiku? Sisi lain hatiku berkata mengapa tidak. Namun, rasa paranoidku berhasil membuat nyaliku ciut untuk  mengungkapkannya.
                                                8888888888

          Di gedung juang ini tempat yang aku pilih sebagai tempat untuk acara puncak malam hari ini. Para tamu mulai berdatangan dan disambut hangat dengan senyum Fani yang hangat lagi mempesona. Ingin rasanya aku jadi tamu undangan yang mendapat senyum itu darinya. Tak lama berkhayal konyol, Fani pun melihat ke arahku sembari melambaikan tangannya. Aku terdiam dan hanya mampu tersenyum salah tingkah. Senyumnya ditambah lagi penampilan Fani dengan baju adat malam ini mendukungnya untuk terlihat lebih anggun dari biasanya dan benar-benar mampu melumpuhkanku.
          Sebuah bisikan datang dari dalam hati kecilku untuk mengungkapkan rasaku pada Fani di malam yang bahagia ini. Aku sudah meminta pertimbangan dari beberapa anggota Racana dan semuanya mendukung untuk niatku mengungkapkannya malam mini. Semua sudah dipersiapkan, dan aku opy=timis Fani akan memberiku respon positive.
          Penampilan demi penampilan berjalan mulus, pesan dan kesan dari para alumni racanapun sudah berlalu. Dan yang paling membuatku terkesan adalah penampilan Fani yang mampu menghibur gersangnya penglihatanku. Lentikan jarinya, gayanya yang luwes dan lenggak lenggok kepalanya menunjukkan kemahirannya dalam menari adat malam ini.
          Acara puncak berupa pemotongan kue tiba juga. Jantungku berdebar bukan karena detik-detik Pembina memotong kue tart dengan angka 38 diatasnya, namun debaran jantungnya yang makin tak terkendali dikarenakan moment terpenting dalam hidupku harus tergores lagi.
          Saat semua tamu sudah pulang dan hanya terlihat anak-anak racana di setiap kali mata memandang dalam gudang juang ini. Danang yang sudah dulu tahu perasaan tersembunyiku mulai memberiku kode untuk memulai aksiku. Walau agak gugup, tapi rasa senangku mampu menghalaunya. Ketua dewan yang turut berpartisipasi mulai mematikan lampu, ditambah Rico yang mengambil alih keybord dan memainkan musik romantis. Kubawa setangkai bunga ke atas panggung sambil mengungkapkan perasaanku kepada Fani tanpa kusebutkan namanya terlebih dahulu.
          Riuh dan sorakan anak-anak racana makin membuatku semangat. Tapi satu kata terakhir membuatku makin memilih untuk bungkam, tapi tetap harus aku katakan.
          “rasa ini…… untuk kamu… Fani”
Suasana tenang sejenak tapi langsung disusul riuh anak-anak. Tak mampu aku menatap wajah Fani, ku melangkah pasti turun dari panggung diiringi menyalanya lampu. Kuberikan mawar putih yang sedari tadi kugenggam pada Fani. Masih tak mampu kutatap matanya dalam. Agak lama mawar itu diraih Fani, tak kutahu apakah ada keraguan darinya atau bagaimana. Intinya aku lega walau masih cemas menuggu jawaban darinya.
          Fani meninggalkan tempat ini tiba-tiba, hanya pertanyaan besar dalam benak setiap anggota racana. Sama halnya denganku, aku benar-benar merasa bingung dan tak tahu harus melakukan apa. bukan kutaks suka dengan sikap Fani yang membuatku tak mampu menahan malu di depan teman-teman racanaku, tapi aku benar-benar tak tahu maksud dari sikapnya.
          Sambil bertanya-tanya anak-anak racana tetap menyemanagatiku dan tetap membimbingku mengatur pikiran positifku. Tak lupa memujiku dengan keberanianku mengungkapkan perasaanku yang menurut mereka dengan cara dan waktu yang keren. Aku hanya dapat tersenyum denga sejuta tanya di hatiku.
                                                888888888888

          Kacau,,, pikiranku benar-benar kacau. Pertama kalinya dalam hidupku mencoba berbagi hati yang mungkin salah dimata perempuan.
Dertttderrttt
Aku terkejut dengan getaran hp yang ada di kantongku. Agak lega karena itu pesan dari Fani. Tapi isi pesannya membuatku tak lega. Dengan pesan singkatnya kucoba menerawang isi hati dn pikirannya. Jika alasannya untuk tetap menjaga hubungan baik sebagai teman, aku terima. Aku tak mampu memaksakan perasaanku padanya. Sakit memang sakit. Tapi sakit ini hanya mampu menjadi rasa sakit yang tak akan sembuh tanpa kata YA darinya.
          Kusandarkan tubuhku ke tembok, bungkam. Hanya gambar tunas kelapa di dindingku yang menjadi saksi bisu kisah cinta gagalku. Namun, tunas itu memberikanku semangat untuk dapat bertahan dalam kondisi apapun seperti sifatnya. Dalam gundah, sedih, sakit, bingung, dan kecewa yang menjadi satu. Kembali kutatap tunas itu dalam seolah dialah tumpuan pengembalian energiku.
          Cikal, tetaplah kau menjadi cinta bisuku.
                                                88888888888
Kutak bangga dengan rasa ini, sengaja aku beranikan diri malam ini agar semua tahu perasaan yang kupendam pada seorang teman yang lebih dari perasaan pada teman ini  diketahui oleh seluruh saksi di sini.
Tak lebih dari senyummu yang selalu membuatku semangat, dan tawa tulusmu yang selalu tahu isi hatiku walau kau tak sadar.
Kalau aku tak bisa menjadi penghias harimu, penghapus laramu, pelindung senangmu dan penghancur laramu
Maka biarkan rasaku yang akan kau tahu ini menjadi candi pelindungmu dari jauh
Izinkan hatiku untuk tetap memberimu rasa ini
Dan jangan halangi kepedualianku walau nanti memang ku bukan bongkahan hati yang selama ini kau cari….
Fani… ini untuk kamu



Kak Andre, kuhargai rasamu yang tulus
Namun aku tak mau beranjak jauh dengan rasaku sekarang
Bagiku semua sama
Walau perkataanmu mampu menggugah hatiku
Membuatku merasa berhaga karena tulusmu
Namun aku tak siap untuk mengubah perasaanku yang dari awal menganggap kalian semua teman dan tak pernah berpikir untuk memandang lebih
Maaf, tak ada maksud melukai, aku sayang kamu tapi rasaku pada organisasi pemersatu kita semua lebih dari itu.
Aku telah lama cinta pada cikal dan tak mampu kubiarkan sesuatu dalam cikal memperngaruhi cintaku untuknya.
Kak Andre, cikal pemersatu kita J dalam cinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar