DAN CIKAL PUN JADI SAKSI
Ku ikat tali
sepatuku sebelum benar-benar beranjak dari kamar kostku. Walau cuaca agak
mendung aku harus tetap ke sanggar siang ini. Sebagai ketua reka kerja, aku
harus benar-benar membuat acara yang aku tangani ini benar-benar sukses.
Sengaja aku menawarkan diri menjadi ketua reka kerja agar memenuhi point ke 8
dalam SKU, untuk meraih tingkat pandega.
Semenjak Munas tidak lagi menetapkan umur untuk pandega, aku jadi
benar-benar ingin menyelesaikan SKU ku sesegera mungkin. Tak peduli apapun
rintangannya, karena tekadku sudah bulat.
Seperti dugaanku, sanggar masih sepi,
tak ada riuh anak-anak racana yang selalu terdengar merdu. Kucoba mengirimkan
sms kepada seluruh penanggung jawab kegiatan yang sudah bersedia membantuku,
tapi hampir setengah jam tak ada balasan. Yaaa mungkin mereka sedang sibuk
dengan kuliah atau kegiatan yang tidak kalah penting.
Sendiri di sanggar dan mencoba
mendekorasi sanggar ini sebisaku, agar sanggar ini terlihat lebih menarik
tentunya. Tak lama dengan kesendirianku, Fani, salah satu penanggung jawab
datang.
“sendiri kak ? yang lain mana ?”
katanya sembari duduk disebelahku dan membantuku.
“yang lain belum tau neh kak
keberadaannya” jawabku masih terus menyelesaikan dekorasiku.
8888888888888
Hari ini acara Perkajum dimulai, sebagai salah satu dari
rangkaian acara Harla racana yang aku ketuai. Aku memang sedikit kewalahan
dengan kegiatan ini. Walaupun aku sudah banyak pengalaman menjadi ketua dalam
kegiatan, namun kali ini memang menguras tenaga dan pikiranku lebih banyak.
Sitambah lagi aku tetap harus jadi peserta perkajum juga.
Briefing baru saja selesai, tak banyak
komentar, mungkin karena hari pertama ini benar-benar melelahkan. Kurebahkan
badanku didekat Rico yang terlihat sudah terlelap dalam tenda.
“Fani kok g dateng yaa, Ndre ?”
Sedikit kaget
mendengar suara Rico yang kuduga sudah terlelap sedari tadi.
“ehh Ric, kirain dah jauh kamu
tidurnya, heheheh mmm aku juga g tahu alasan Fani g datang, padahal akan lebih
seru yaa kalau dia bisa datang”jawabku pada Rico yang sudah kembali terlelap.
Aneh juga anak ini,
pikirku.
Rico benar juga, kenapa Fani g datang
yaa. Sibuk kali yaa, atau banyak tugas, atau mungkin bertabrakan dengan jadwal
kuliahnya. Ahhh kucoba menepis pikiranku yang tiba-tiba memikirkan Fani.
88888888
Rangkaian perkajum berhasil, namun
tugasku belum sepenuhnya selesai. Aku masih harus mengumpulkan PJ agar mampu
melaporkan keluhan dan persiapan mereka sejauh ini untuk acara puncak nantinya.
Banyak laporan-laporan PJ yang makin menjadi bebanku. Dari bidang tari, drama,
mc, dan lain lain yang sudah hampir setengah beres.
Aku tatap Fani yang sedang sibuk
membicarakan sesuatu dengan ketua dewan putra dan partnernya dalam bidang tari.
Senyumannya dan tawa kecilnya yang sesekali menyelingi pembicaraan terlihat
sangat menyejukkan mataku. Lesung pipinya walau hanya terlihat dari jauh tak
mampu mengurangi manis wajahnya. Aku
tersadar kalau aku benar-benar menatapnya dalam saat Danang mengagetkanku.
“hayoo pak ketua ngeliatin apaa
nehhh,,, dalam banget” katanya menggoda
“ ahh gak, biasa ajaa” jawabku sambil
menggaruk kepala walau memang tek terasa gatal.
“waauuuuuww kayaknya pangeran sudah
menemukan pasangannya nih” kali ini suara Sasa yang sengaja dibesarkan agar
anak-anak sanggar lain mendengarnya.
“apa-apaan sih, biasaa ajaa” kataku
sambil sesekali menatap Fani, berharap dia tidak mendengar kata-kata Sasa tadi.
Kuraih tasku
sembari berlalu untuk keluar, tapi Fani menanyakan apa maksud perkataan Sasa
tadi, tak lupa dengan senyum manisnya.
“lupain Fan, mereka asal tuh”
Hanya kata-kata itu
yang mampu kuucapkan untuk menutupi kegugupanku di depan Fani.
88888888
Kutatap balkon kamar kosku sambil
terus membiarkan bayang-bayang Fani menari dalam pikiranku. Semakin hari aku
makin merasa lain saat aku tatap matanya. Jantungku tak dapat dikendalikan
debarannya setiap kali dia memberikan senyum indah nan tulusnya padaku. Lengkungan
bibir yang mampu mengundang lesung pipinya semakin mampu mengganggu setiap
detikku. Sapaannya juga tak kalah menjadikan pikiranku sedikit lebih tenang
dengan berbagai jenis beban yang ada sebelumnya.
Ku bertanya dalam diriku, apakah aku
merasakannya ? pantaskan aku merasakannya dengan teman satu organisasiku? Sisi
lain hatiku berkata mengapa tidak. Namun, rasa paranoidku berhasil membuat
nyaliku ciut untuk mengungkapkannya.
8888888888
Di gedung juang ini tempat yang aku
pilih sebagai tempat untuk acara puncak malam hari ini. Para tamu mulai
berdatangan dan disambut hangat dengan senyum Fani yang hangat lagi mempesona.
Ingin rasanya aku jadi tamu undangan yang mendapat senyum itu darinya. Tak lama
berkhayal konyol, Fani pun melihat ke arahku sembari melambaikan tangannya. Aku
terdiam dan hanya mampu tersenyum salah tingkah. Senyumnya ditambah lagi
penampilan Fani dengan baju adat malam ini mendukungnya untuk terlihat lebih
anggun dari biasanya dan benar-benar mampu melumpuhkanku.
Sebuah bisikan datang dari dalam hati
kecilku untuk mengungkapkan rasaku pada Fani di malam yang bahagia ini. Aku
sudah meminta pertimbangan dari beberapa anggota Racana dan semuanya mendukung
untuk niatku mengungkapkannya malam mini. Semua sudah dipersiapkan, dan aku
opy=timis Fani akan memberiku respon positive.
Penampilan demi penampilan berjalan
mulus, pesan dan kesan dari para alumni racanapun sudah berlalu. Dan yang
paling membuatku terkesan adalah penampilan Fani yang mampu menghibur
gersangnya penglihatanku. Lentikan jarinya, gayanya yang luwes dan lenggak
lenggok kepalanya menunjukkan kemahirannya dalam menari adat malam ini.
Acara puncak berupa pemotongan kue
tiba juga. Jantungku berdebar bukan karena detik-detik Pembina memotong kue
tart dengan angka 38 diatasnya, namun debaran jantungnya yang makin tak
terkendali dikarenakan moment terpenting dalam hidupku harus tergores lagi.
Saat semua tamu sudah pulang dan hanya
terlihat anak-anak racana di setiap kali mata memandang dalam gudang juang ini.
Danang yang sudah dulu tahu perasaan tersembunyiku mulai memberiku kode untuk
memulai aksiku. Walau agak gugup, tapi rasa senangku mampu menghalaunya. Ketua
dewan yang turut berpartisipasi mulai mematikan lampu, ditambah Rico yang
mengambil alih keybord dan memainkan musik romantis. Kubawa setangkai bunga ke
atas panggung sambil mengungkapkan perasaanku kepada Fani tanpa kusebutkan
namanya terlebih dahulu.
Riuh dan sorakan anak-anak racana
makin membuatku semangat. Tapi satu kata terakhir membuatku makin memilih untuk
bungkam, tapi tetap harus aku katakan.
“rasa ini…… untuk kamu… Fani”
Suasana tenang
sejenak tapi langsung disusul riuh anak-anak. Tak mampu aku menatap wajah Fani,
ku melangkah pasti turun dari panggung diiringi menyalanya lampu. Kuberikan
mawar putih yang sedari tadi kugenggam pada Fani. Masih tak mampu kutatap
matanya dalam. Agak lama mawar itu diraih Fani, tak kutahu apakah ada keraguan
darinya atau bagaimana. Intinya aku lega walau masih cemas menuggu jawaban
darinya.
Fani meninggalkan tempat ini
tiba-tiba, hanya pertanyaan besar dalam benak setiap anggota racana. Sama
halnya denganku, aku benar-benar merasa bingung dan tak tahu harus melakukan
apa. bukan kutaks suka dengan sikap Fani yang membuatku tak mampu menahan malu
di depan teman-teman racanaku, tapi aku benar-benar tak tahu maksud dari
sikapnya.
Sambil bertanya-tanya anak-anak racana
tetap menyemanagatiku dan tetap membimbingku mengatur pikiran positifku. Tak
lupa memujiku dengan keberanianku mengungkapkan perasaanku yang menurut mereka
dengan cara dan waktu yang keren. Aku hanya dapat tersenyum denga sejuta tanya
di hatiku.
888888888888
Kacau,,, pikiranku benar-benar kacau.
Pertama kalinya dalam hidupku mencoba berbagi hati yang mungkin salah dimata
perempuan.
Dertttderrttt
Aku terkejut dengan getaran hp yang ada di kantongku. Agak lega
karena itu pesan dari Fani. Tapi isi pesannya membuatku tak lega. Dengan pesan
singkatnya kucoba menerawang isi hati dn pikirannya. Jika alasannya untuk tetap
menjaga hubungan baik sebagai teman, aku terima. Aku tak mampu memaksakan
perasaanku padanya. Sakit memang sakit. Tapi sakit ini hanya mampu menjadi rasa
sakit yang tak akan sembuh tanpa kata YA darinya.
Kusandarkan tubuhku ke tembok,
bungkam. Hanya gambar tunas kelapa di dindingku yang menjadi saksi bisu kisah
cinta gagalku. Namun, tunas itu memberikanku semangat untuk dapat bertahan
dalam kondisi apapun seperti sifatnya. Dalam gundah, sedih, sakit, bingung, dan
kecewa yang menjadi satu. Kembali kutatap tunas itu dalam seolah dialah tumpuan
pengembalian energiku.
Cikal, tetaplah kau menjadi cinta
bisuku.
88888888888
Kutak bangga dengan rasa ini,
sengaja aku beranikan diri malam ini agar semua tahu perasaan yang kupendam
pada seorang teman yang lebih dari perasaan pada teman ini diketahui oleh seluruh saksi di sini.
Tak lebih dari senyummu yang selalu membuatku
semangat, dan tawa tulusmu yang selalu tahu isi hatiku walau kau tak sadar.
Kalau aku tak bisa menjadi penghias
harimu, penghapus laramu, pelindung senangmu dan penghancur laramu
Maka biarkan rasaku yang akan kau
tahu ini menjadi candi pelindungmu dari jauh
Izinkan hatiku untuk tetap memberimu
rasa ini
Dan jangan halangi kepedualianku
walau nanti memang ku bukan bongkahan hati yang selama ini kau cari….
Fani… ini untuk kamu
Kak Andre, kuhargai rasamu yang
tulus
Namun aku tak mau beranjak jauh
dengan rasaku sekarang
Bagiku semua sama
Walau perkataanmu mampu menggugah
hatiku
Membuatku merasa berhaga karena
tulusmu
Namun aku tak siap untuk mengubah
perasaanku yang dari awal menganggap kalian semua teman dan tak pernah berpikir
untuk memandang lebih
Maaf, tak ada maksud melukai, aku
sayang kamu tapi rasaku pada organisasi pemersatu kita semua lebih dari itu.
Aku telah lama cinta pada cikal dan
tak mampu kubiarkan sesuatu dalam cikal memperngaruhi cintaku untuknya.
Kak Andre, cikal pemersatu kita J dalam cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar