Sudut
kecil dalam ruang gelap tak berati
Kembali
ku tatap wajahku dalam sebuah cermin usang di kamarku. Mungkin kalau cermin ini
bisa bicara, dia akan meluapkan semua kebosanannya atas wajahku dan betapa
tidak sukanya dia digunakan olehku. Setiap kali aku menatap wajahku, maka
semakin sering pula aku bertanya kepada Tuhan tentang nasib buruk yang menimpa
diriku, semakin seringpula kubiarkan air
mataku mengaliri pipi lusuhku yang aku tahu, air mata itu hanya makin membuatku
semakin tidak menarik.
Hanya
terkurung di dalam rumah hampir setiap hari, jauh dari serentetan suara
kebahagian. Di usiaku yang sudah 17 tahun aku sudah tidak mampu lagi menahan
sakit dengan hinaan teman-temanku yang memiliki rupa yang slalu saja membuatku
iri. Akupun merasa wajar dengan hinaan mereka. Setiap kali orang melihatku akan
terasa kurang tanpa menghinaku. Kulit hitam kering, mata cekung, pesek, bibir
tebal,dan badan benar-benar kering. Apa lag iyang bisa mereka tidak hina dariku
?? cukup sudah. Mungkin inilah yang menjadi alasan orang tuaku membuangku,
menjadi alasan petugas pantipun tak mampu menampungku lagi.
“prince…
aku rindu cahaya matahari langsung menerpa wajahku, aku rindu butiran hujan
langsung menyejukkan kulitku, aku rindu tiupan angin menyegarkan pikiranku” sambil
menutup jendela kamar petak yang masih mampu kusewa dengan profesiku sebagai
pemulung. Tak ada kawan, hanya sebuah boneka yang senantiasa mendengarkan
setiap keluh kesahku, boneka yang sudah lebih dari cukup bagiku menjadi teman
yang tak pernah menghinaku. Prince, yaa itulah nama yang kuberikan padanya.
Terobsesi dengan dongeng mas kecilku, yang kadang aku menganggapnya nyata dan
berharap dia mampu menjadi seperti dalam dongeng waktu itu. Prince, pasangan
seorang princess buruk rupa dan senantiasa menemaninya.
“prince..
lumayan 17.800 untuk barang yang kita pulung selama 3 hari” kuperlihatkan recehan-recehan uang
dalam kaleng kepada prince. Dalam benakku terlihat senyumannya yang mampu
menghiburku untuk mengucap rasa syukur kepada Tuhan yang telah tak adil padaku.
Kubuka penutup wajahku yang tiap hari kugunakan untuk menutupi wajah burukku
saat memulung sembari mengambil handuk untuk mandi. Aku terdiam. Memandang
prince dalam. Kuhampiri dia dan kuletakkan di depan wajahku.
“malas
mandi ahh prince, percuma, jelek juga” dengan nada lesu, kembali ku letakkan
prince dekat dengan tikar tidurku, tempat yang sangat dia suka karena mampu
memalingkan wajahnya dari wajah hinaku.
Aku
tetap memutuskan masuk untuk mencuci diriku, walaupun tak menimbulkan perubahan
sedikitpun. Aku sudah tak tahan menanggungnya, kuraih silet yang sudah dari tadi melambaikan harapannya
padaku, meyakinkanku akan mendapat hidup lebih baik dengan memutus tali
kehidupan di pergelangan tanganku. Aku benar-benar sudah jatuh, tak ada lagi
pondasi hidup untuk bertahan, tak ada bahu untuk menopang laraku. Aku merasa
Tuhan akan membiarkanku bahagia karena dia tak pernah sekalipun memberiku rasa
bahagia, lahir di duniapun merupakan kesengsaraan awal bagiku.
Dengan
prince di pelukanku, hembusan angin, terik matahari dan masih menunggu titik
hujan menjadi kawan terakhirku sebelum napas benar-benar tak mampu menemani
asadku lagi.
Kuperlihatkan
padamu Tuhan, inilah diriku sebagai ciptaanmu yang gagal. Kutunjukkan padamu
rasa sakit akibat ulah tanganmu. Satu saja, tak usah lagi kau menciptakan orang
dengan nasib sepertiku. Dan tak usah pula kau menciptakan orang-orang yang
hanya mampu menilai dari suatu hal yang terlihat dan mengabaikan hal yang
nyata.
Tuhan ,, kumaafkan mereka, dan maafkan akuu….
Biarkan aku menjadi peri untuk setiap hati yang gundah Karena
itulah bahagiaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar