Rabu, 07 November 2012

Sudut kecil dalam ruang gelap tak berati Sudut kecil dalam ruang gelap tak berati


Sudut kecil dalam ruang gelap tak berati

                Kembali ku tatap wajahku dalam sebuah cermin usang di kamarku. Mungkin kalau cermin ini bisa bicara, dia akan meluapkan semua kebosanannya atas wajahku dan betapa tidak sukanya dia digunakan olehku. Setiap kali aku menatap wajahku, maka semakin sering pula aku bertanya kepada Tuhan tentang nasib buruk yang menimpa diriku,  semakin seringpula kubiarkan air mataku mengaliri pipi lusuhku yang aku tahu, air mata itu hanya makin membuatku semakin tidak menarik.
                Hanya terkurung di dalam rumah hampir setiap hari, jauh dari serentetan suara kebahagian. Di usiaku yang sudah 17 tahun aku sudah tidak mampu lagi menahan sakit dengan hinaan teman-temanku yang memiliki rupa yang slalu saja membuatku iri. Akupun merasa wajar dengan hinaan mereka. Setiap kali orang melihatku akan terasa kurang tanpa menghinaku. Kulit hitam kering, mata cekung, pesek, bibir tebal,dan badan benar-benar kering. Apa lag iyang bisa mereka tidak hina dariku ?? cukup sudah. Mungkin inilah yang menjadi alasan orang tuaku membuangku, menjadi alasan petugas pantipun tak mampu menampungku lagi.
                “prince… aku rindu cahaya matahari langsung menerpa wajahku, aku rindu butiran hujan langsung menyejukkan kulitku, aku rindu tiupan angin menyegarkan pikiranku” sambil menutup jendela kamar petak yang masih mampu kusewa dengan profesiku sebagai pemulung. Tak ada kawan, hanya sebuah boneka yang senantiasa mendengarkan setiap keluh kesahku, boneka yang sudah lebih dari cukup bagiku menjadi teman yang tak pernah menghinaku. Prince, yaa itulah nama yang kuberikan padanya. Terobsesi dengan dongeng mas kecilku, yang kadang aku menganggapnya nyata dan berharap dia mampu menjadi seperti dalam dongeng waktu itu. Prince, pasangan seorang princess buruk rupa dan senantiasa menemaninya.
                “prince.. lumayan 17.800 untuk barang yang kita pulung selama  3 hari” kuperlihatkan recehan-recehan uang dalam kaleng kepada prince. Dalam benakku terlihat senyumannya yang mampu menghiburku untuk mengucap rasa syukur kepada Tuhan yang telah tak adil padaku. Kubuka penutup wajahku yang tiap hari kugunakan untuk menutupi wajah burukku saat memulung sembari mengambil handuk untuk mandi. Aku terdiam. Memandang prince dalam. Kuhampiri dia dan kuletakkan di depan wajahku.
                “malas mandi ahh prince, percuma, jelek juga” dengan nada lesu, kembali ku letakkan prince dekat dengan tikar tidurku, tempat yang sangat dia suka karena mampu memalingkan wajahnya dari wajah hinaku.
                Aku tetap memutuskan masuk untuk mencuci diriku, walaupun tak menimbulkan perubahan sedikitpun. Aku sudah tak tahan menanggungnya, kuraih silet  yang sudah dari tadi melambaikan harapannya padaku, meyakinkanku akan mendapat hidup lebih baik dengan memutus tali kehidupan di pergelangan tanganku. Aku benar-benar sudah jatuh, tak ada lagi pondasi hidup untuk bertahan, tak ada bahu untuk menopang laraku. Aku merasa Tuhan akan membiarkanku bahagia karena dia tak pernah sekalipun memberiku rasa bahagia, lahir di duniapun merupakan kesengsaraan awal bagiku.
                Dengan prince di pelukanku, hembusan angin, terik matahari dan masih menunggu titik hujan menjadi kawan terakhirku sebelum napas benar-benar tak mampu menemani asadku lagi.
                Kuperlihatkan padamu Tuhan, inilah diriku sebagai ciptaanmu yang gagal. Kutunjukkan padamu rasa sakit akibat ulah tanganmu. Satu saja, tak usah lagi kau menciptakan orang dengan nasib sepertiku. Dan tak usah pula kau menciptakan orang-orang yang hanya mampu menilai dari suatu hal yang terlihat dan mengabaikan hal yang nyata.
Tuhan ,, kumaafkan mereka, dan maafkan akuu….
Biarkan aku menjadi peri untuk setiap hati yang gundah Karena itulah bahagiaku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar